Suratku Untukmu (Risalah Seorang Ibu kepada Anaknya)

bbb

Disadur dari kajian Ustadz Armen Halim Naro,

Lc -Rohimahulloh-

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ

Untuk anakku yang ku sayangi di bumi Allah
ta’ala Segala puji ku panjatkan ke hadirat Allah
ta’ala, yang telah memudahkan ibu untuk
beribadah kepada-Nya. Sholawat serta salam,
ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad –
shollallohu alaihi wasallam-, keluarga, dan para
sahabatnya.
Wahai anakku … Surat ini datang dari ibumu,
yang selalu dirundung sengsara. Setelah berpikir
panjang, ibu mencoba untuk menulis dan
menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan
rasa malu menyelimuti diri ini.Setiap kali
menulis, setiap itu pula gores tulisan ini
terhalangi oleh tangis. Dan setiap kali
menitikkan air mata, setiap itu pula, hati ini
terluka.
Wahai anakku … Sepanjang masa yang telah
engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-
laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak.
Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini,
sekalipun nantinya engkau akan remas kertas
ini, lalu engkau robek-robek, sebagaimana
sebelumnya engkau telah remas hati ibu, dan
telah engkau robek pula perasaannya.
Wahai anakku … 25 tahun telah berlalu, dan
tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan
dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang
menyampaikan tentang kehamilanku, dan semua
ibu sangat mengerti arti kalimat tersebut.
Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri
ini, sebagaimana ia adalah awal mula dari
perubahan fisik dan emosi ibu. Semenjak kabar
gembira tersebut, aku membawamu sembilan
bulan. Tidur, berdiri, makan, dan bernafas dalam
kesulitan. Akan tetapi, itu semua tidak
mengurangi cinta dan kasih sayangku
kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama
berjalannya waktu. Aku mengandungmu wahai
anakku, pada kondisi lemah di atas lemah.
Bersamaan dengan itu, aku begitu gembira
tatkala merasakan dan melihat terjalan kakimu,
atau balikan badanmu di perutku. Aku merasa
puas, setiap aku menimbang diriku, karena bila
semakin hari semakin berat perutku, berarti
dengan begitu engkau sehat wal afiat di dalam
rahimku.
Anakku … Penderitaan yang berkepanjangan
menderaku, sampailah tiba pada malam itu,
yang aku tidak bisa tidur sekejap pun, aku
merasakan sakit yang tidak tertahankan, dan
merasakan takut yang tidak bisa dilukiskan.
Sakit itu berlanjut, sehingga membuatku tidak
dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula, aku
melihat kematian di hadapanku, hingga tibalah
waktunya engkau keluar ke dunia, dan engkau
lahir. Bercampur air mata kebahagiaanku dengan
air mata tangismu. Ketika engkau lahir, menetes
air mata bahagiaku. Dengan itu, sirna semua
keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan
penderitaan, bahkan kasihku kepadamu semakin
bertambah, dengan bertambah kuatnya sakit.
Aku raih dirimu, sebelum ku raih minuman. Aku
peluk cium dirimu, sebelum meneguk satu tetes
air yang ada di kerongkongan.
Wahai anakku … Telah berlalu setahun dari
usiamu. Aku membawamu dengan hatiku,
memandikanmu dengan kedua tangan kasih
sayangku. Sari pati hidupku, kuberikan
kepadamu. Aku tidak tidur, demi tidurmu,
berletih demi kebahagiaanmu. Harapanku pada
setiap harinya, agar aku selalu melihat
senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat,
adalah setiap permintaanmu agar aku berbuat
sesuatu untukmu. Itulah kebahagiaanku. Lalu
berlalulah waktu, hari berganti hari, bulan
berganti bulan, tahun berganti tahun, selama itu
pula, aku setia menjadi pelayanmu yang tidak
pernah lalai… menjadi dayangmu yang tidak
pernah berhenti… menjadi pekerjamu yang tidak
pernah lelah… dan mendoakan selalu kebaikan
dan taufiq untukmu. Aku selau memperhatikan
dirimu, hari demi hari, hingga engkau menjadi
dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang
kekar, kumis dan jambang tipis telah menghiasi
wajahmu, telah menambah ketampananmu,
wahai anakku… Tatkala itu, aku mulai melirik ke
kiri dan ke kanan, demi mencari pasangan
hidupmu, semakin dekat hari perkawinanmu
anakku, semakin dekat pula hari kepergianmu.
Tatkala itu, hatiku serasa teriris-iris, air mataku
mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia
telah bercampur dengan duka. Tangis telah
bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena
engkau mendapatkan pasangan… karena engkau
telah mendapatkan jodoh… karena engkau telah
mendapatkan pendamping hidup… Sedangkan
sedih karena engkau adalah pelipur hatiku, yang
akan berpisah sebentar lagi dari diriku. Waktu
pun berlalu, seakan-akan aku menyeretnya
dengan berat, kiranya setelah perkawinan itu,
aku tidak lagi mengenal dirimu. Senyummu yang
selama ini menjadi pelipur duka dan
kesedihanku, sekarang telah sirna bagaikan
matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam.
Tawamu yang selama ini kujadikan buluh
perindu, sekarang telah tenggelam, seperti batu
yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening,
dengan dedaunan yang berguguran, aku benar-
benar tidak mengenalmu lagi, karena engkau
telah melupakanku dan melupakan hakku.
Terasa lama hari-hari yang ku lewati, hanya
untuk melihat rupamu. Detik demi detik ku
hitung demi mendengar suaramu. Akan tetapi
penantianku seakan sangat panjang. Aku selalu
berdiri di pintu hanya untuk menanti
kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu, aku
menyangka bahwa engkaulah orang yang datang
itu. Setiap kali telepon berdering, aku merasa
bahwa engkau yang akan menelponku. Setiap
suara kendaraan yang lewat, aku merasa bahwa
engkaulah yang datang.Akan tetapi semua itu
tidak ada, penantianku sia-sia, dan harapanku
hancur berkeping. Yang ada hanya keputus-
asaan… Yang tersisa hanya kesedihan dari
semua keletihan yang selama ini ku rasakan,
sambil menangisi diri dan nasib yang memang
ditakdirkan oleh-Nya.
Anakku… Ibumu tidaklah meminta banyak, ia
tidaklah menagih padamu yang bukan-bukan.
Yang ibu pinta kepadamu: Jadikan ibumu
sebagai sahabat dalam kehidupanmu.
Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai
pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku
menatap wajahmu, agar ibu teringat pula dengan
hari-hari bahagia masa kecilmu. Dan ibu
memohon kepadamu nak, janganlah engkau
pasang jerat permusuhan dengan ibumu. Jangan
engkau buang wajahmu, ketika ibumu hendak
memandang wajahmu. Yang ibu tagih
kepadamu: Jadikanlah rumah ibumu, salah satu
tempat persinggahanmu, agar engkau dapat
sekali-kali singgah ke sana, sekalipun hanya
sedetik.Jangan jadikan ia sebagai tempat
sampah yang tidak pernah engkau kunjungi.
Atau sekiranya terpaksa engkau datang sambil
engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu
pergi.
Anakku… Telah bungkuk pula punggungku…
bergemetar tanganku… karena badanku telah
dimakan oleh usia, dan telah digerogoti oleh
penyakit… Berdirinya seharusnya telah dipapah…
duduk pun seharusnya dibopong…Akan tetapi,
yang tidak pernah sirna -wahai anakku- adalah
cintaku kepadamu… masih seperti dulu… masih
seperti lautan yang tidak pernah kering… masih
seperti angin yang tidak pernah berhenti…
Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh
seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikan
dengan kebaikan, sedangkan ibumu, mana balas
budimu, mana balasan baikmu?! bukankah air
susu seharusnya dibalas dengan air serupa?!
bukan sebaliknya air susu dibalas dengan air
tuba?! Dan bukankah Alloh ta’ala, telah
berfirman:
ﻫﻞ ﺟﺰﺍﺀ ﺍﻹﺣﺴﺎﻥ ﺇﻻ ﺍﻹﺣﺴﺎﻥ
Bukankah balasan kebaikan, melainkan kebaikan
yang serupa?! Sampai begitukah keras hatimu,
dan sudah begitu jauhkah dirimu setelah
berlalunya hari dan berselangnya waktu.
Wahai anakku… Setiap kali aku mendengar
bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap
itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana
tidak?! Karena engkau adalah buah dari kedua
tanganku… Engkau adalah hasil dari
keletihanku… Engkaulah laba dari semua
usahaku… Dosa apakah yang telah ku perbuat,
sehingga engkau jadikan diriku musuh
bebuyutanmu?! Pernahkah suatu hari aku salah
dalam bergaul denganmu?! Atau pernahkah aku
berbuat lalai dalam melayanimu?! Tidak
dapatkah engkau menjadikanku pembantu yang
terhina dari sekian banyak pembantu-
pembantumu yang mereka semua telah engkau
beri upah?! Tidak dapatkah engkau berikan
sedikit perlindungan kepadaku di bawah
naungan kebesaranmu?! Dapatkah engkau
sekarang menganugerahkan sedikit kasih sayang
demi mengobati derita orang tua yang malang
ini?!
ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺤﺐ ﺍﻟﻤﺤﺴﻨﻴﻦ
Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang
berbuat baik.
Wahai anakku… Aku hanya ingin melihat
wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.
Wahai anakku…Hatiku terasa teriris, air mataku
mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat.
Orang-orang sering mengatakan, bahwa engkau
adalah laki-laki yang supel, dermawan dan
berbudi.
Wahai anakku… Apakah hatimu tidak tersentuh,
terhadap seorang wanita tua yang lemah, binasa
dimakan oleh rindu berselimutkan kesedihan,
dan berpakaian kedukaan?! Mengapa? Tahukah
engkau itu?! Karena engkau telah berhasil
mengalirkan air matanya… Karena engkau telah
membalasnya dengan luka di hatinya… Karena
engkau telah pandai menikam dirinya dengan
belati durhakamu tepat menghujam jantungnya…
Karena engkau telah berhasil pula memutuskan
tali silaturrahim.
Wahai anakku…Ibumu inilah sebenarnya pintu
surga, maka titilah jembatan itu menujunya…
Lewatilah jalannya dengan senyuman yang
manis, kemaafan, dan balas budi yang baik…
Semoga aku bertemu denganmu di sana, dengan
kasih sayang Alloh ta’ala sebagaimana di dalam
hadits:
ﺍﻟﻮﺍﻟﺪ ﺃﻭﺳﻂ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻓﺈﻥ ﺷﺌﺖ ﻓﺄﺿﻊ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﺒﺎﺏ
ﺃﻭ ﺍﺣﻔﻈﻪ
Orang tua adalah pintu surga yang paling tinggi.
Sekiranya engkau mau, sia-siakanlah pintu itu,
atau jagalah! (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi,
dishohihkan oleh Albani)
Anakku… Aku mengenalmu sejak dahulu…
semenjak engkau telah beranjak dewasa… aku
tahu engkau sangat tamak dengan pahala…
engkau selalu cerita tentang keuatamaan
berjamaah… engkau selalu bercerita terhadapku
tentang keutamaan shof pertama dalam sholat
berjamaah… engkau selalu mengatakan tentang
keutamaan infak, dan bersedekah…Akan tetapi
satu hadits yang telah engkau lupakan… satu
keutamaan besar yang telah engkau lalaikan…
yaitu bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam-
telah bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh
Abdulloh bin Mas’ud, ia mengatakan:
ﺳﺄﻟﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻗﻠﺖ : ﻳﺎ
ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻱ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺃﻓﻀﻞ؟ ﻗﺎﻝ : ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ
ﻣﻴﻘﺎﺗﻬﺎ. ﻗﻠﺖ : ﺛﻢ ﺃﻱُّ؟ ﻗﺎﻝ : ﺛﻢ ﺑﺮ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪﻳﻦ . ﻗﻠﺖ : ﺛﻢ
ﺃﻱُّ؟ ﻗﺎﻝ : ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ . ﻓﺴﻜﺖ ﻋﻦ ﺭﺳﻮﻝ
ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻟﻮ ﺍﺳﺘﺰﺩﺗﻪ ﻟﺰﺍﺩﻧﻲ . ) ﻣﺘﻔﻖ
ﻋﻠﻴﻪ )
Aku bertanya kepada Rosululloh -shollallohu
alaihi wasallam-: Wahai Rosululloh, amal apa
yang paling mulia? Beliau menjawab: sholat
pada waktunya. Aku bertanya lagi: Kemudian
apa wahai Rosululloh? Beliau menjawab:
Kemudian berbakti kepada kedua orang tua. Aku
bertanya lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh?
Beliau menjawab: Kemudian jihad di jalan Alloh.
Lalu aku pun diam (tidak bertanya) kepada
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- lagi,
dan sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau
akan menjawabnya.Itulah hadits Abdulloh bin
Mas’ud…
Wahai anakku… Inilah aku, ibumu… pahalamu…
tanpa engkau harus memerdekakan budak atau
banyak-banyak berinfak dan bersedekah… aku
inilah pahalamu… Pernahkah engkau mendengar,
seorang suami yang meninggalkan keluarga dan
anak-anaknya, berangkat jauh ke negeri
seberang, ke negeri entah berantah untuk
mencari tambang emas, guna menghidupi
keluarganya?! Dia salami satu persatu, dia ciumi
isterinya, dia sayangi anaknya, dia mengatakan:
Ayah kalian, wahai anak-anakku, akan berangkat
ke negeri yang ayah sendiri tidak tahu, ayah
akan mencari emas… Rumah kita yang reot ini,
jagalah… Ibu kalian yang tua renta ini, jagalah…
Berangkatlah suami tersebut, suami yang
berharap pergi jauh, untuk mendapatkan emas,
guna membesarkan anak-anaknya, untuk
membangun istana mengganti rumah reotnya.
Akan tetapi apa yang terjadi, setelah tiga puluh
tahun dalam perantauan, yang ia bawa hanya
tangan hampa dan kegagalan. Dia gagal dalam
usahanya. Pulanglah ia kembali ke kampungnya.
Dan sampailah ia ke tempat dusun yang selama
ini ia tinggal. Apa lagi yang terjadi di tempat itu,
setibanya di lokasi rumahnya, matanya
terbelalak. Ia melihat, tidak lagi gubuk reot yang
ditempati oleh anak-anak dan keluarganya. Akan
tetapi dia melihat, sebuah perusahaan besar,
tambang emas yang besar. Jadi ia mencari
emas jauh di negeri orang, kiranya orang
mencari emas dekat di tempat ia tinggal.Itulah
perumpaanmu dengan kebaikan,
Wahai anakku… Engkau berletih mencari
pahala… engkau telah beramal banyak… tapi
engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala
yang maha besar… di sampingmu ada orang
yang dapat menghalangi atau mempercepat
amalmu masuk surga…Ibumu adalah orang yang
dapat menghalangimu untuk masuk surga, atau
mempercepat amalmu masuk surga… Bukankah
ridloku adalah keridloan Alloh?! Dan bukankan
murkaku adalah kemurkaan Alloh?!
Anakku… Aku takut, engkaulah yang dimaksud
oleh Nabi Muhammad -shollallohu alaihi
wasallam- di dalam haditsnya:
ﺭﻏﻢ ﺃﻧﻔﻪ ﺛﻢ ﺭﻏﻢ ﺃﻧﻔﻪ ﺛﻢ ﺭﻏﻢ ﺃﻧﻔﻪ ﻗﻴﻞ ﻣﻦ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ
ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺎﻝ ﻣﻦ ﺃﺩﺭﻙ ﻭﺍﻟﺪﻳﻪ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻜﺒﺮ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﺃﻭ ﻛﻠﻴﻬﻤﺎ
ﺛﻢ ﻟﻢ ﻳﺪﺧﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ ) ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ )
Celakalah seseorang, celakalah seseorang, dan
celakalah seseorang! Ada yang bertanya:
Siapakah dia wahai Rosululloh? Beliau
menjawab: Dialah orang yang mendapati orang
tuanya saat tua, salah satu darinya atau
keduanya, akan tetapi tidak membuat dia masuk
surga. (HR. Muslim 2551)Celakalah seorang
anak, jika ia mendapatkan kedua orang tuanya,
hidup bersamanya, berteman dengannya, melihat
wajahnya, akan tetapi tidak memasukkan dia ke
surga.
Anakku… Aku tidak akan angkat keluhan ini ke
langit, aku tidak akan adukan duka ini kepada
Alloh, karena jika seandainya keluhan ini telah
membumbung menembus awan, melewati pintu-
pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan
dan kesengsaraan, yang tidak ada obatnya dan
tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya…
Aku tidak akan melakukannya wahai anakku…
tidak… bagaimana aku akan melakukannya,
sedangkan engkau adalah jantung hatiku…
bagaimana ibu ini kuat menengadahkan
tangannya ke langit, sedangkan engkau adalah
pelipur lara hatiku… bagaimana ibu tega
melihatmu merana terkena doa mustajab,
padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan
hidupku…Bangunlah nak… bangunlah…
bangkitlah nak… bangkitlah… uban-uban sudah
mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu
masa, sehingga engkau akan menjadi tua pula.
ﺍﻟﺠﺰﺍﺀ ﻣﻦ ﺟﻨﺲ ﺍﻟﻌﻤﻞ
Sebagaimana engkau akan berbuat, seperti itu
pula orang akan berbuat kepadamu.
ﺍﻟﺠﺰﺍﺀ ﻣﻦ ﺟﻨﺲ ﺍﻟﻌﻤﻞ
Ganjaran itu sesuai dengan amal yang engkau
telah tanamkan. Engkau akan memetik sesuai
dengan apa yang engkau tanam.Aku tidak ingin
engkau menulis surat ini… aku tidak ingin
engkau menulis surat yang sama, dengan air
matamu kepada anak-anakmu, sebagaimana
aku telah menulisnya kepadamu.
Wahai anakku… Bertakwalah kepada Allah…
takutlah engkau kepada Allah… berbaktilah
kepada ibumu… peganglah kakinya,
sesungguhnya surga berada di kakinya…
basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya…
kencangkan tulang ringkihnya… dan kokohkan
badannya yang telah lapuk…
Anakku… Setelah engkau membaca surat ini,
terserah padamu. Apakah engkau sadar dan
engkau akan kembali, atau engkau akan
merobeknya.Wa shollallohu ala nabiyyina
muhammadin wa ala alihi wa shohbihi wa
sallam.

Dari Ibumu yang merana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s